“Renyah” betul Buku Ini

Dalam Dekapan Ukhuwah-500x500Akhirnya selesai sudah pembacaanku tentang buku ini. Rangkaian kata demi katanya yang menjadikannya frasa, kalimat, paragraf sedemikian “renyah”nya ternikmati oleh software pembaca tulisan yang diciptakan-Nya di tubuhku ini. Perlahan namun selalu, dari mulai kata pertama yang tak kuhiraukan tapi lama kelamaan banyak kisah dalam buku ini yang menjadikanku sadar bahwa hidupku bukan sebatang kara, penerima hujaman mulut kata-kataku juga bukan hanya telinga  pasangku sendiri, hati dan tempat proses itu ada juga bukanlah milikku saja yang dengan atau tidak sengaja menyimpan memori apa-apa yang telah kuperbuat.Kisah Rasullullah Salallahu ‘alaihi wassalam yang begitu cerdasnya membangkitkan semangat ukhuwah di antara pengikutnya, kisah persaingan terbaik di jalan-Nya oleh Umar dan Utsman yang dengan kerendahan hati ke duanya tampak malu jika Rasulullah menanyakan amalannya. Dan kisah-kisah pemimpin lain di jaman itu yang sangat harus kita contoh dari sisi penglihatan kita dari kehidupan sekarang. Karna tak mungkin kita akan menyayatkan pedang pada seorang kafir jika diri kitapun belum bercermin sepenuhnya, pantaskah?

Dan hangat yang terkisah di buku ini, tepat halamannya sayapun lupa. Bahwa, apapun yang telah Allah terjadikan pada kita, kehilangan harta, sakit tubuh kita, kemiskinan yang tak terkira, mari selalu berprasangka baik terhadap-Nya. Kebiasaan kita berprasangka baik selama ini yang tak pernah kita sadari sebelumnya jangan kita rusak dengan berbagai lembut tiupan “nafsu” setan, kata penulis dalam buku ini. Dan tidakkah kita sadar, sedetik yang akan datang adalah cara kita berprasangka baik terhadap-Nya, ada dua pilihan masih tetap menghirup oksigen atau tertutup dengan kafan, dan kita selalu memilih pilihan pertama, bukankah begitu? Dan bukan yang ke dua, itupun karena kebiasaan kita yang selalu berprasangka baik.

Demikianlah “Dalam Dekapan Ukhuwah”, apa yang salah pada orang lain hanyalah cermin ketidak sukaan sifat yang terdapat pada diri kita sendiri, maka bukan menyalahkannya tapi lebih berujung untuk terus memperbaiki diri dengan menghadirkan teladan baginya dengan kebaikan kita.

–Maaf untuk rangkaiannya yang tak indah sama sekali, yang mungkin hanyalah menyakiti—

2 thoughts on ““Renyah” betul Buku Ini

  1. Dyah Fajar berkata:

    itulah rambu-rambu kehidupan, apa yang tidak menyenangkan yang terjadi disekitar kita bisa jadi karena dari kesalahan yang kita perbuat,, <– bahasaku dibikin ngikutin kaya yang nulis ah.. :p :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s