Belajar dari Ibu Een….

Tak  ada manusia yang terlahir sempurna

Jangan kau sesali segala yang telah terjadi…..

Jangan menyerah, judul penggalan lagu di atas. Yah, mungkin frase itu juga yang sengaja pencipta lagu pesankan kepada pendengar. Semua mempunyai keterbatasan, sesempurna apapun seorang manusia pasti di sisi lain ada celah kecil yang Allah sengaja berikan, entah dibuat sebagai sebuah pengingat untuk selalu bersyukur atau sebaliknya, mengeluh, tinggal bagaimana kita mengapresiasi celah tersebut.

Mungkin kisah Ibu Een Sukaesi di bawah bisa menjadikan kita (termasuk penulis) tahu apa yang seharusnya dihadapi atas sebuah kekurangan. Keterbatasan fisik karena tubuhnya yang lumpuh tidak menjadi penghalang untuk Een Sukaesih seorang guru asal Sumedang, Jawa Barat ini untuk mengajar meski dari atas tempat tidur. Hampir 26 tahun sudah Een mengabdikan hidupnya untuk mengajar, menyemai ilmu dan kasih sayang untuk siswanya yang datang silih berganti kerumahnya. “Mulai dari 1986, saya sudah terbaring di tempat tidur ini sambil mengajar. Hal ini terjadi diakibatkan penyakit rematoid artifis yang terjadi 26 tahun yang lalu,” kata Een saat ditemui wartawan dirumahnya. Dedikasi dan pengabdian Een Sukaesih kemarin menghantarkannya ke Jakarta untuk menerima penghargaan khusus Special Achievement Liputan6 Award untuk kategori Inovasi, Kemanusian, Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan.

een-haji130605c

Kelumpuhan yang dialami Een berawal sejak Een kelas 3 SPG (Sekolah Pendidikan Guru waktu itu). Een kerap kali merasakan sendi-sendi tangannya ngilu. Dari hasil tes laboratorium 5 April 1982 dokter menyatakan Een menderita Rheumathoid Artitis. Belum ada obatnya. Hancur hati perempuan muda itu, dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya menjadi guru. Gurunya yang tahu akan potensi Een tidak membiarkan siswa kesayangannya ini patah semangat. Ia sampai menahan ijazah Een demi memaksanya untuk ikut tes ke perguruan tinggi. Benar saja, Een lulus tes penyaringan dan diterima di Program Diploma 3 Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung.

Een-Sukaesih-300x165

Pada 1985 Een lulus dengan nilai cukup baik, dan diangkat jadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Sebulan di sana, sebelum sempat prajabatan, Een sudah tak kuasa menahan sakit. Een pun pulang ke Sumedang. Sejak saat itu Een Sukaesih menjadi lumpuh total. Meski begitu, Een tetap berusaha ikhlas menerima penyakitnya dan kondisinya. Ia terus berdoa memohon kesembuhan dari-Nya. Ia putar otak untuk mengisi waktunya yang hening dengan sesuatu yang bermanfaat. Doanya pun terjawab. Dari mengajar anak kerabat dan keponakannya membuatkan pekerjaan rumah, kini anak-anak tetangga berjumlah puluhan orang menjadi ‘murid’nya. Tanpa memungut bayaran alias gratis. Untuk dedikasinya pada pendidikan, Een beroleh sejumlah penghargaan, di antaranya Dompet Dhuafa Award 2010, lalu Education Award dari Bank Syariah Mandiri (BSM), lalu dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Kartini Award 2012 dan Tupperware She Can! untuk karya inspiratifnya.

Banyak dari kita (termasuk penulis) menjadikan celah kekurangan yang kita punyai sebagai sebab dari keluhan-keluhan yang sering kita ucapkan. Mungkin hanya sebatas ban bocor, hujan, jarak yang jauh, dan hal-hal kecil lainnya, tak seperti Ibu Een yang sampai lumpuh menjalani hidupnya. Pertanyaan di awal tadi, kini sudah terjawab, bagaimana kita mengapresiasi kekurangan yang Allah amanahkan kepada kita. Pertanyaan selanjutnya, Ibu Een yang lumpuh saja bisa menginspirasi banyak orang…. Bagaimanakah dengan kita yang sempurna?

Source: http://20222716.siap-sekolah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s