Untukmu Sang Pemuja Kursi, KPU, dan Sang Terpilih

Sang TerpilihSeminggu sudah terlewat, hingar bingar pemilu legislatif negeri ini. Pesta demokrasi namanya, calon legislatif pilihannya, dan kita-kita ini pemilihnya. Tepat jam 9 pagi, saya mulai mengantri. Berbaju kece sama ibu-ibu, dan kurang lebih satu setengah jam barulah saya berdiri di balik bilik itu. Empat lembar kertas suara yang harus saya buka, pilih, dan coblos. Selesailah sudah barulah saya celup.

Untukmu Sang Pemuja Kursi

Beberapa jam sebelumnya, saya sempat memotivasi banyak generasi muda untuk ikut serta memilih, berpartisipasi dalam pemilu legislatif ini, namun hanya beberapa yang  peduli. Sampai beberapa hari setelahnya, ketika kabar politik uang terungkap, adanya kampanye tak senonoh yang tak patut dipandang negeri agamis ini, calon-calon yang tak siapkan mental kalah, dan beberapa hal memalukan lainnya yang ‘Indonesia Banget’ membuat saya sadar mengapa mereka tak tertarik sedikitpun dengan pesta lima tahunan ini.

Sudah kami mencoba menjadi orang yang peduli, mencari yang baik yang menjadi milik sang calon kemudian memromosikannya, tetapi di sisi lain sang lawan bangga atas apa yang dipertaruhkannya. Memberikan ‘serangan-serangan’ yang nanti bisa mereka dapatkan dengan mudah ‘cashback’-nya di parlemen, jika terpilih. Mirisnya, tidak sedikit dari mereka yang gagal dengan ‘serangan’-nya, frustasi, dan meminta kembali. Mereka tidak berpikir efek buruk terhadap kami, generasi muda. Andai kami menelan ilmu yang mereka ajarkan tersirat, menghalalkan segala cara untuk raih semua, jangan harap suatu saat nanti Indionesia punya pemimpin-peminpin harapan bangsa.

Kami generasi muda mungkin yang awalnya tertarik menjadi acuh dan tak peduli sama sekali karena instannya para calon belajar menjadi ‘sang wakil’. Ada yang terdukung dari populernya mereka di dunia hiburan tanah air, ada juga yang terdukung karena mereka dihadapkan pada uang yang berlebih, dan banyak lagi. Lalu, manusia setengah dewa mana yang harus kami pilih?

Untukmu KPU

Puas saya menghujat mereka yang memang buruk, tapi kritikus terbaik pasti punya beberapa solusi cerdas atas masalah yang dikritik. Sebagai pemilih cerdas, saya mencoba mempelajari hal-hal sekitar yang menjadi beberapa kelemahan pemilu 9 april lalu, semua mengerucut menjadi 2 hal penting, yaitu Publikasi dan Sarana.

Ibu-ibu belakang dan depan saya saat mengantri semua mengeluh bagaimana memilihnya, siapa yang harus dipilih, bagaimana melipatnya, bagaimana, dan bagaimana. Di sisi lain, mahasiswa yang harusnya ini menjadi pemilu pertamanya, dingin, dan tanpa antusias sedikitpun. Andai KPU masuk ke kelas-kelas siswa dan mahasiswa, memotivasi bahwa di ujung paku yang mereka pegang itulah, nasib bangsa ini ditentukan mungkin sedikit banyak memengaruhi jumlah angka golput. Ada, tapi hanya di kota besar saja.

Para perantau mungkin punya antusiasme lebih, namun 1 hari tak cukup untuk berbuat banyak. Mereka lebih memilih menjadikan tanggal merah itu untuk memanjakan diri menikmati sepi di ibu kota atau berlibur bersuka cita. Kita punya E-KTP yang secara logika masing-masing manusia Indonesia mempunyai data khusus mengenai dirinya. Andai E-KTP terintegrasi dengan data KPU dan memilih hanya perlu menggunakan gadget yang kita punyai, log in, dan semua ada mengenai Pemilu, mulai dari siapa saja yang harus kita pilih, apa latar belakangnya, apa saja prestasinya, dan mungkin ada prediksi apa yang akan terjadi jika kita memilih satu dari mereka, semua kan menjadi lebih mudah. Perantau tidak perlu mengurus undangan, tidak perlu mengurus surat pidah memilih, dan KPU pun tidak perlu khawatir karena semua sidik jari sudah tersimpan di E-KTP.

Untukmu Sang Terpilih

Nasi telah menjadi bubur, mereka ‘sang terpilih’ sudah tinggal menghitung hari duduk di kursi, kita hanya mananti, kerja mereka harusnya benar dan rapi, membangun negeri ibu pertiwi. Doa dari negeri mengiringi langkah sang terpilih, berharap mereka menangis setiap detik memikirkan majunya negeri ini, tanpa sedikitpun tawa korup yang beberapa waktu lalu sempat menggema. Kami tak bisa menuntut, karena kau kerja ataupun tidak itu logikamu. Tapi ingatlah sang pembuat paru dimana kau bisa bernafas, sang pencipta kaki hingga kau bisa melangkah bahkan berlari, Tuhan tidak pernah sedikitpun menutup mata-Nya, mengawasi apa yang tak kau lahirkan sekalipun. Dan kami, karena berpikir baik lebih dari sekedar berlian, maka kami titipkan negeri ini kepadamu. Kami banyak asa terhapadmu, bahkan di saat yang lain tak sedikitpun menggubrismu. Tenang, jika kau baik, Tuhan di sampingmu, depan menuntunmu, bahkan di belakangmu. Tetap tegar dan jalankan misi barumu untuk visi Indonesia Satu, Baru, Maju, dan Berilmu.

2 thoughts on “Untukmu Sang Pemuja Kursi, KPU, dan Sang Terpilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s