Menilik kebijakan Fenomenal sang Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

PNS DILARANG RAPAT DI HOTELBerapa jam yang lalu, ga sengaja jari ini tertuntun menekan tombol 9 remote tv dalam kamar, TV One dengan Gestur-nya. Yang membuat saya tertarik bukan karena pembawa acaranya yang cantik kece, atau kerennya sang pembaca gestur, bukan pula ketepatan sang pembaca tulisan orang. Itu tuh, pak menteri PAN RB, Yuddy Chrisnandi dengan kebijakannya yang melarang PNS melaksanakan rapat di Hotel dan pembatasan jumlah tamu undangan pernikahan seorang PNS sebanyak 400 saja. Sumpiiiir, eh sumpaah. Itu ide konyol yang keren, yang ga biasa keluar dari seorang menteri. Mungkin emang lagi trend kali ya, menteri-menteri di kabinet kerja milik Jokowi ini mengeluarkan ide-ide keren, sebut saja Rini Sumarmo, ibu menteri BUMN ini ingin menjual gedung kementrian BUMN. Gedung 22 lantai itu dihuni dua ratus lima puluh karyawan, padahal menurut beliau, kementrian BUMN hanya butuh tiga sampai empat lantai saja. Mungkin yang 18 lantai bisa disewakan untuk kantor perusahaan lain, kalau ga, jadiin rusun aja, dikotak-kotakin hehehe.Ok. Sebelum saya utarakan pendapat saya mengenai kebijakan Pak Yuddy, kita cari tau dulu apa sih PNS tuh. Saya yakin, banyak dari kita tau kepanjangannya saja, pegawai negeri sipil, atau kalau ga profesi-profesi sejenisnya, guru, camat, dsb. PNS menurut Wikipedia terdiri dari 3 yaitu: 1. Pegawai Negeri Sipil; 2. Anggota Kepolisian RI; dan 3. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Semua dari mereka, gajinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dimana sumber pendapatan terbesarnya merupakan hasil dari penerimaan pajak. Jadi, apa yang selama ini rakyat bayarkan yang ternamai pajak, beberapa persen darinya dipakai untuk menggaji PNS. Implikasinya, bisa dikatakan PNS adalah pelayan sang wajib pajak (rakyat). Didukung PP Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil, PNS adalah aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Ada kawan yang punya gagasan tentang pembatasan tamu undangan pernikahan bagi PNS. Beliau beranggapan setiap pesta yang terselenggara terbiayai oleh PNS itu sendiri, lalu mengapa pemerintah membatasi? Tidak salah kawan saya beranggapan seperti itu, terlihat dari sudut pandang kehidupan sosial di desa-desa akan berdampak penggunjingan masal, mungkin kebijakan tersebut akan lebih efektif jika diterapkan di kota-kota besar di Indonesia. Berbeda dengan beliau, saya lebih setuju dengan pendapat pak menteri, mencoba menarik kesimpulan dari beberapa statement tingkat nasional tentang PNS, mereka adalah abdi negara yang akan lebih baik jika gaya hidup dan semua yang diakukannya mencerminkan seorang abdi, yang tidak berfoya-foya dan secukupunya semata. Karena yang terbelanjakan adalah uang kami, pajak rakyat Indonesia. Mungkin akan berdampak baik dari sisi PNS sendiri dengan kesederhanaannya pun dari lingkungan sekitar.

Bangsa ini bangsa besar yang rakyatnya tak bermobil semua, ada yang hanya menadahkan tangan untuk makan setiap harinya, ada yang dua puluh lima ribu rupiah setiap bulannya, ada pula yang sampai tidurnya bertenda jalanan kaki manusia. Bukan lalu, untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada mereka, melainkan harus ada pengalih perhatian agar yang ‘kurang’ ini mampu menggunakan semangatnya, apa yang mereka punyai untuk terbiayai pekerjaannya dari pajak negara. Bukan hanya untuk terbiarkan melihat para PNS mermobil ria, mengadahkan tangannya ke mereka.

Ah udah ah…. Sok tau ini, tapi itu sedikit gagasan dari sekian banyak yang mencaci maki ide sang menteri. The point is, saya setuju dengan kebijakan tersebut, walaupun keluarga saya PNS juga dan saya anak terakhir serta belum menikah, mungkin akan kami contohkan bagaimana seharusnya nanti. cieeeeeeee…

2 thoughts on “Menilik kebijakan Fenomenal sang Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s