Memanggil. Menjaga hatinya…

memanggil nama

Haaaaiiiii nduuuut…

Yaaa, itulah yang banyak tersebut saat kawan dekat kita berbadan melebihi normalnya.

Selamat pagiii, pesek.

Kalo itu, panggilan yang biasa terucap kawanku untuk kekasihnya, karena berhidung lebih mungil. Iyaaaa iyaaaa, yang lagi jatuh cinta. Sandal mah serasa awan, kamar mandi serasa tempat karaoke, bebek berasa BMW, angkot serasa limosin. Panggilan-panggilan aneh tadi bahkan mungkin menjadi penyayat hati, saat orang yang belum terlalu kenal, mengucap. Mungkin kita akan berbalik memaki, atau kadang malah tega lebih menyakiti.

Sering juga mulut ini memanggil sesama dengan yang bukan nama aslinya, padahal sang pembuat mungkin telah berpikir keras agar anaknya kelak menjadi seperti apa yang ternama. Terseliplah doa-doa di sela rajutan huruf yang menjadikannya kata yang indah diucap, walau yang terdengar bukan seharusnya ada lagi di kekinian ini. Ambil contoh, nama-nama Jawa yang biasa terawali dengan SU- atau SRI. Dan kata kakek, itu berarti sangat, unggul, dan baik.

Bukan sengaja menghakimi, atau mencoba menjadi yang sok benar. Tapi mari kita bersama, belajar. Merujuk dari sebuah ayat “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat:11). Bukan bermaksud menggolongkan pemanggilan-pemanggilan tadi berakhir zalim, biar logika masing-masing dari kita saja yang menuntunnya.

Hal yang paling gelap di muka bumi ini adalah hati manusia, gelap bukan karena semua manusia adalah kejam, bukan. Tapi, karena di sanalah perasaan terdeskripsi sepenuhnya, dan hanya yang punya serta sang mencipta yang tau. Kita mungkin bermaksud canda, agar pertemuan kita dengannya berawal senyum tapi tak ada yang tau bagaimana mereka menerimanya, bagaimana mereka ke depan, bagaimana mereka mendoa untuk kita. Andaikan baik, itu karena kita mungkin sedang beruntung, jika berakhir buruk, sesal saja kah?

Ada semacam rumus yang mungkin bisa kita pakai untuk menyelami hari-hari. Berandai. Andaikan saya di posisi mereka, siapkah?

Mungkin suatu saat kita akan berada di posisi mereka, terhina, terpanggil dengan panggilan bukan semestinya, hingga terfitnah. Muhammad SAW memerankannya dengan sangat baik dan mungkin tak ternah kita pikirkan sebelumnya. Saat seorang pengemis Yahudi buta memanggilnya dengan cela, “Muhammad bukan nabi, Muhammad itu gila!”. Beliau dengan segala kesibukannya mencoba menyela waktu untuk memberikan sarapan di setiap pagi, untuk sang pengemis hingga Muhammad wafat. Kemudian penyuap pengemis itu terganti dengan Abu Bakar Asysyidiq ra. Maka datanglah Abu bakar kepadanya dan menyuapinya berharap selayak rasulullah. “Rasanya lain, kamu bukan yang biasanya menyuapi aku, kemana itu orang?” tanya pengemis tersebut. “Beliau sudah meninggal,” jawab Abu bakar. “Siapa dia?” lanjut pengemis itu.“Dialah Muhammad yang setiap hari engkau caci-maki,” jelas Abu Bakar. Pengemis tersebut menangis histeris, “Mengapa orang sebaik itu aku caci-maki?” sesalnya.

Semoga logika kita bermain hingga tak harus tertulis lagi apa yang harus terlakukan saat kita di posisi tu. Kita tak akan tau, surga itu berasal dari mana. Mungkin dari yang tersakiti berbalas indah, atau yang terhina berbalas sanjungan. Sekali lagi, Andaikan saya di posisi mereka, siapkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s