DI BALIK 98

Capture3Sore ini, tujuanku terealisasi. Ya walau tak biasa bertiga, tapi menyenangkan. DI BALIK 98. Film ini berkisah mengenai tragedi trisakti dengan terbumbui beberapa cerita random yang menambah antusias. Ada alasan mengapa saya sampai rela mengeluarkan sedikit uang untuk menonton film Indonesia ini. Karena untuk beberapa orang nonton film Indonesia menjadi hal yang aneh. Tapi tidak denganku, justru film Indonesia lah yang susah keluar versi web-nya (bajakannya maksudku… hehehhe.)

Kembali ke film, duduk di hadapan layar seakan turun dan masuk ke dalamnya. Menjadi mahasiswa di kala itu dengan sejuta nafsu untuk Indonesia yang lebih baik. Suharto bukanlah menjadi pilihan rakyat, lagi. Seakan nama itu harus enyah dari dunia politik Indonesia. Tak hanya itu, tetes sampai alir air mata ini melihat semangat reformasi yang mencoba dihadirkan kepada penonton. Mungkin rasa iba itu hadir karena posisi saya sebagai mahasiswa. Seakan terbayar entah berapa jam yang mereka sisihkan untuk negeri ini. Teriakan, peluh, sakit, hingga nyawa yang mereka haturkan berujung dengan sujud haru, tangis bangga.

Chelsea, dia salah satu mahasiswi yang menentang pemahaman kakaknya yang bekerja di dapur istana bersuamikan anggota ABRI. Mereka berdua bagaikan pro Suharto. Apa yang telah terusahakan oleh Chelsea dianggap hanya sebagai cerita anak kecil yang tak tau apa-apa. Hingga tergambarkan momen dimana Chelsea berdiri di depan ribuan mahasiswa pejuang, berteriak, menatap dalam mata kakak ipar yang sedang dalam tugas, berdiri siap, dengan senjata di punggungnya, di depan gedung MPR dan DPR.

balikdlmKisah lain tergambar memilukan saat dimusnahkannya apa yang menjadi aset keluarga Tiongkok. Boy yang juga menjadi salah satu bagiannya, adalah pacar Chelsea. Tangis, brontak, sampai bentakan keluar, setiba di rumahnya dan ayah, adiknya tiada.

film-di-balik-98-hadir-di-bioskop-januari-2015-LlSPada dasarnya, film itu ingin menyampaikan semangat yang harusnya dimusnahkan dan tidak hadir lagi di 2015 ini. Bukan tentang reformasi lagi tapi berubah menjadi perjuangan. Kita sudah tak harus menjadi Chelsea bersama kawan-kawannya lagi dengan teriakan, tangis, hingga berkorban nyawa. Boy sampai geleng kepala setibanya di Indonesia lagi setelah kepergiannya beberapa tahun lalu. “Kenapa masih saja seperti dulu, Indonesia”, mungkin itu gumamnya dalam hati melihat demo yang sedang terberitakan di TV.

Mari kita menjadi Chelsea yang sekarang berjuang dengan pemikiran kita. Berjuang dengan prestasi kita. Berjuang dengan mimpi-mimpi kita. Idealisme seorang mahasiswa bukan berarti tidak bisa dipatahkan, masih ada hal-hal lebih smart lagi yang bisa dilakukan. Hidup Mahasiswa!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s