Jogja dini hari (2)

Meja ini tak cukup untuk laptop putihku, apalagi bersama pasangannya
menatap jauh, ada sofa biru bergaris sesukanya
bersanding dengan meja kayu, dan tak berpenghuni
sudahlah, kuputuskan saja pindah ke lain kaki

Word terbuka, hitam di atas putih pilu dan bingung apa yang harus kulanjutkan
nilai mereka, laporanku, atau kutulis saja tentang malam ini
buaian Tulus pun akhirnya hadir. haru, pilu, bit datar, dan Boomerang
“Dia biarkan ku jatuh cinta, lalu dia pergi seenaknya”
Susah jika bernyanyi dengan puisi di dalamnya
Kadang bilang senyum, yang berarti luka dan sebaliknya

Sang nona kemudian pergi, dengan kepastian. Ini akhir pekan
Mungkin nanti bangun di sela matahari sudah tak cantik, lagi
Selangnya, katika hujan mereda
2 pasang mudi muda menyapa, bukan kepadaku
Seakan sudah beribu kali kemari, mungkin kawan lama
Iphone yang mulai menyala, terlihat merah milik Path terbuka

Kulihat di sudut lain dan baru sadar
Ada hias dinding RICOH Fotocopy, Djamu Air Mancur
semacamnya dan banyak lagi
tersusun rapi, sedikit agak tak simetris

Berselang lagi, Tuhan memanggilku dengan Adzan-nya
meminta bill, kemudian terbayar
berkemas sebentar, takut ada yang tertinggal
bingung tak tau harus ke sumber suara sebelah mana
dan Jogja masih sama di pagi buta

One thought on “Jogja dini hari (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s