Senja hingga senja, Dieng

Semacam tak percaya, aku yang dulu acuh dengan hal indah ini, kemudian terbiasa dengan gugusannya beberapa bulan terakhir. Baru tiga, mungkin akan menjadi lima atau tujuh dan selebihnya. Puncak yang tak banyak orang bisa menikmatinya, yang lebih memilih cahaya lampu gemerlap daripada rinai gerimis tersinari bintang atau kawan sejatinya, bulan.

Kali ketiga, kaki ini tertuntun ke Puncak Prau, Wonosobo. Berkawan carier 60L, sandal eiger, dan cakap tawa 3 kawanku. Sore itu 5 pm, kuputuskan inilah saatnya. Dan aku bukanlah para profesional, alat yang masih bertemu di persewaan dan nyali yang tak sebesar mereka. Tak akan ku bercerita tentang apa yang terjadi di perjalanan, bukan pula tentang keindahan yang Allah tawarkan ketika kita berada di atas, semua biarlah kami saja yang menyimpannya rapat. Karena jika sudah tergambar nyata, kalian tak akan pernah mengunjunginya.

Kali ini aku bercerita tentang dataran tinggi Dieng dengan segala keunikannya. Bermula pertemuanku  dengan penawar penginapan, kuputuskan menginap di rumahnya, seadanya. Kami mulai bercakap, dia mulai terpancing dan keluarganya. Bercerita tentang anak perempuannya, gimbal. Tak pernah ku tau sebelumnya bahwa memang ada manusia yang lahir dengan rambut ala ‘rege’ di sebagian kepalanya. Kupikir mereka harus pergi ke salon untuk menjadikannya. Bertutur dengan segala keluhan, keunikan, dan ritual yang harus dijalani tentang anak perempuannya.

Cabe kecil pedas di dataran rendah, menjadi aneh di sini. Besar dan tak sepedas si rawit walau dengan bibit yang sama. Begitu juga dengan pepaya, yang menjadi carica di sini,  kemudian mereka jadikan manisan. Aneh tapi, itu kuasa-Nya.

Menghabiskan waktu dengan nge-bromo menjadi sebuah ritual wajib. Berusaha menghangatkan raga melawan 8 derajat celcius, berdiam diri memanggang telapak tangan di atas bara api, sedikit hangat walau harus banyak yang terkeluarkan dari saku. Siang sampai malam, kemudian siang lagi. Dan banyak yang terus seperti itu.

Lain keluarga, kakaknya lebih tepat. Menikah adalah hal yang wajib di sini, wajib setelah lulus SD. Miris memang melihat pasangan muda 15 tahun keduanya. Tapi siapa yang berani menentang kuasa-Nya. Semua tertulis dan kita sebagai pejalan. Mereka lebih memilih bertandang ke ladang dengan air, tanah, dan kentangnya daripada berseragam hormat dengan sang guru.

Mereka mengajarkanku hidup sederhana, dengan rokok sekencangnya. Tak ada pernah jeda, mulut itu bercakap seperti gerbong yang tak berhenti. Itu pola pikir dan sugesti, melarangnya bukan hal yang baik. Hanya sedikit sindiran saja ku lontarkan. Mungkin dia sadar, dan kembali ke rutinitas awal.

Dan, hari mulai menyisakan sedikit malam. Obrolanku kali ini terhenti ketika subuh, dan segera kunikmati golden sunrise. Ini hanya sedikit cerita, Anda mungkin tak percaya dan ketika tak percaya logika sederhana yang harus dilakukan adalah membuktikannya.🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s