Badai di Pucuk Merapi jam dua pagi

Selamat Pagiiiiiii Merapi
Beeeeeh, 2 dini hari di 2600 mdpl berhujan badai hingga tak kuat tangan ini untuk menggenggam.
Yap, itu secuil kisah mengesankan di pendakianku ke puncak Merapi. Bersama 15 kawan yang lain, pendakian ini sebenarnya menjadi bertambah berat. Entah karena kawan-kawan yang baru pertama ndaki atau memang cuaca dan keadaan yang tak mendukung. Bertolak dari Solo pukul 2 siang, Sabtu itu kami bersepeda motor menuju rumah kawan kami, Indra. RUmahnya persis di kaki gunung merbabu. Jangan tanya dinginnya, sudah pasti.

Sesampainya di sana, kami disuguh ketan putih dan the hangat untuk teman kami berkemas sebelum pendakian, kalau kata pendaki istilahnya “packing”. Seusai packing, kami bertolak menuju basecamp pendakian Gunung Merapi. Di sana setiap orang dimintai biaya retribusi Rp. 15.000,00 dan parkir motor Rp. 5.000,00. Menurutku sedikit lebih mahal daripada gunung-gunung lainnya. Di sana kami sempat menunggu beberapa menit karena hujan deras turun tak berhenti. Hingga pada akhirnya jam 6 sore kami putuskan untuk mulai pendakian.Setapak demi setapak, bermodal carrier dan baterei serta sebotol minuman, kami telusuri jalur pendakian ini. Tak ada bonus, yang ada hanya jalan yang terus menanjak. Susah dan berat tapi mungkin ini filosofi hidup, kita harus tetap menjadi yang ter-survive untuk mencapai tujuan yang ingin kita raih. Terbagi menjadi 3 kelompok, dengan masing-masing satu leader dan saya berada di tim yang paling akhir.

3 jam awal yang berat, kami sering berhenti untuk sekedar mengatur nafas, dan itupun baru sampai pos satu. Kadang hanya untukseteguk air putih, atau malah merebahkan carrier yang sungguh berat. Pos satu pun berlalu, dan angin badai mulai menyapa. Kata kawan, seperti ditiup malaikat tapi masih terlindungi oleh susunan pepohonan dan kami sengaja untuk berhenti sebentar sekira untuk menghangatkan badan. Kami buka atap dan kami berteduh di bawahnya, menghidupkan kompor kemudian memasak sedikit bekal yang sudah kami bawa, kopi dan mie instan. Jangan tanya pizza atau mie ayam di gunung.

Jam 10 kami melanjutkan perjalanan, semakin ke atas semakin terjal jalannya, kami semapt beristirahat di pos dua. Bertemu dengan seorang anak berumur 4 tahunan turun dari puncak gunung. That was amazing, pasti tuh anak, orang tuanya pendaki handal. Lanjut dari pos dua, kami menuju ke pos selanjutnya dan jalan lagi-lagi tak bersahabat. Jika tadi masih banyak pepohonan yang melindungi kami dari badai, kini tak ada sedikitpun. Kami benar baner berjalan di puncak gunung dengan berkawan badai yang hebat. Sangaaaat kencang yang pernah kutemui.

Hingga kami sampai di pos yang terakhir yaitu pasar bubrah. Saya juga kurang tau kenapa di situ dinamakan pasar bubrah oleh masyarakat sekitar. Di sana saya sempat melihat banyak nisan yang bertuliskan meninggalnya seorang pendaki. Di pasar bubrah, kami putuskan untuk nge-camp di sana. Ini menjadi tidak biasa karena sangat sulit untuk mendirikan tenda dengan keadaan badai yang sangat kencang, belum lagi tidak semua orang bisa mendirikan tenda, belum lagi tangan yang ga bisa untuk menggenggam sesuatu pun. Tapi, tak ada yang tak mungkin, pasak yang harusnya menancap di tanah, untuk kali ini hanya dikaitkan di batu, karena memang di camp area ini tidak ada tanah sama sekali.

Sampai pasar bubrah, jam 2 pagi dan jam 3 kami mulai menyiapkan diri untuk istirahat. Pagi yang harusnya untuk mendamaikan diri dengan sunrise, waktu itu matahari masih kalah dengan sang badai. Dia malu malau, bahkan kami tak dapatkan view menarik apapun sekalin tenda kami sendiri. Hanya beberapa menit, mengabadikan moment itupun tertutup awan. Yaaaa, memang begitu kalau naik gunung di musim hujan. Seperti hidup, kita sekalu dihadapkan dengan pilihan untuk taruhan, antara mendapatkan sunrise atau malah tertutup badai.

Sebenarnya banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari naik gunung berbanyak orang, mulai dari bagaimana cara mencari jalan terbaik, hingga bagaimana cara untuk menjadikan diri kita bermanfaat untuk orang lain, dengan menanggalkan kepentingan kita sendiri. Dengan mendaki kita harus tanggung jawab dengan apa yang kita mulai, kita tidak bisa seenaknya pulang di tengah jalan, atau malah berpikir untuk tidak pulang saja.

Itu sedikit ceritaku, di Merapi yang indah itu. Gunung yang beberapa tahun yang lalu menhadirkan korban yang sangat banyak, entah manusia ataupun material. Gunung yang masih aktif dengan siklus empat tahunan dan gunung yang membuatku masih penasaran untuk mendakinya kembali. Aku masih merindukan puncak dengan segala keindahannya yang belum kudapatkan. Selamat bertemu kembali di Agustus nanti.

2 thoughts on “Badai di Pucuk Merapi jam dua pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s